Sabtu, 05 Juni 2021

BAHAYANYA MENERUSKAN BERITA HOAKS

Hukum dan Bahaya Menyebarkan Berita Hoaks dalam Pandangan Islam
Penyebaran berita hoaks sangat berbahaya dan dilarang agama. (Foto: ilustrasi/istimewa)
Regional Detail Berita

Hukum dan Bahaya Menyebarkan Berita Hoaks dalam Pandangan Islam
Kastolani Sabtu, 12 Oktober 2019 - 04:32:00 WIB
JAKARTA, iNews.id - Al Lisanu Kassaif. Lisan itu seperti pedang. Pepatah Arab itu mengajarkan betapa bahayanya jika kita salah mengucap atau mengatakan sesuatu yang tidak benar.

Belakangan ini marak kabar bohong atau hoaks yang bersebaran di media sosial. 

Buntut dari penyebaran berita hoaks itu, bisa berujung pada proses hukum.

Lalu bagaimana hoaks dalam pandangan Islam?

Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul Baari memberikan syarah atas sebuah  hadits. Kata "lisan" secara khusus disebutkan karena ia yang di-i'tibar dan menjadi cerminan apa yang ada dalam diri, demikian pula kata  "tangan" karena banyak pekerjaan yang  dikerjakannya, dan hadits ini.

"Almuslimu man salimal muslimuuna min lisanihii wayadihi".

Artinya: Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
berlaku umum dengan nisbat pada lisan, tidak pada tangan (HR. Bukhori).

Karena lisan sangat memungkinkan mengucapkan (kebaikan atau keburukan) apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang akan datang setelahnya, beda dengan tangan.

Dengan demikian sangat memungkinkan  apa yang dikerjakan lisan juga tertuang dalam bentuk tulisan dan efek sebuah tulisan terlihat sangat dahsyat.

Imam Ghozali menjelaskan tentang adab kedua tangan dalam kitab Bidayatul Hidayah : Adapun kedua tangan, peliharalah keduanya dari memukul seorang muslim, atau  dipergunakan untuk memperoleh harta yang haram, atau digunakan untuk  menyakiti sesama makhluk, atau digunakan dalam berkhianat atas sebuah  amanah dan titipan atau menulis sesuatu yang tidak boleh diucapkan karena pena adalah salah satu dari dua lisan.
Jadi jaga dan pelihara tangan dari apa yang menjadi kewajiban lisan untuk memeliharanya.

Hukum menyebarkan berita hoaks

Kejahatan penyebaran berita bohong memantik lembaga-lembaga keagamaan Islam di Indonesia untuk mengkaji hukumnya dari sudut pandang agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya nomor No. 24 tahun 2017 tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial, MUI memutuskan hukum haram dalam penyebaran hoaks serta informasi bohong meskipun bertujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.

Selain penyebaran hoaks, dalam fatwa tersebut MUI juga mengharamkan ghibah (membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya), fitnah, namimah (adu domba), dan juga penyebaran permusuhan.

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui hasil Bahstul Masail yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2016 menyatakan haram perilaku membuat dan menyebarkan berita palsu, bohong, menipu atau dikenal dengan hoaks.

LBM PBNU merespons situasi saat ini yang makin marak terkait perilaku membuat dan menyebarkan berita hoaks. Hal semacam itu bisa menyebabkan tersebarnya kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat dan lebih jauhnya bisa menyebabkan disintegrasi nasional.

Karena itu, sebelum mengucapkan atau menuliskan sesuatu ke khalayak umum terutama di media sosial kita perlu mengkroscek ulang apakah kabar yang akan ditulis benar adanya atau kabar bohong.

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujuraat [49]: 6)

Dengan memeriksa suatu informasi dengan teliti, yaitu mencari bukti bukti kebenaran informasi tersebut kita insyaallah akan selamat.

Satu hal yang lebih baik lagi jika kita tidak mengetahui sesuatu yang tidak jelas kebenarannya lebih baik diam. 

Wallahu A'lam Bissawab.

Sumber: piss-ktb, islami.co


   



Senin, 26 April 2021

MULTI LEVEL MARKETING ALA GURU DI BULAN RAMADHAN

    MLM ( Multi Leveel Marketing ) istilah ini bukan sesuatu yang asing, karena hampir semua sistem marketing atau pemasaran suatu produk saat sekarang adalah menggunakan sistem ini, sistem pemasaran MLM adalah sistem pemasaran dengan sistem berkaki dan kaki berikutnya terus bekerja agar mendapatkan jaringannya, dan seterusnya sehingga terbentuk suatu skema pemasaran yang luas dan mendapatkan pengasilan yang maksimal, hal itu berlaku di bidang ekonomi, namun dalam hal ibadah dan amalan di bulan ramadhan tidak seseram dan tidak sekeras itu, namun dia mengalir apa adanya tentu dalam naugan Allah SWT, karena dalam hal ini kita tidak mengejar materi semata. Bulan Ramdhan merupakan bulan yang membawa kebahagian buat kaum muslim, hal ini banyak sekali dibahas dalam berbagai tulisan dan tauziah yang disampaiakan oleh para ustaz dan para kiyai tentang berbagai keutamaannya . Salah satu keutamaannya adalah dibalasnya berlipat ganda berbagai amalan dan ibadah kita di bulan ramadhan. Amalan ini dapat dilakukan secara individu dan secara berjamaah, namun pada kesempatan ini akan di bahas bagaimana cara melakukan amaliah yang terus mengalir tanpa mengurangi amalan yang lainnya, kalau istilah diekonomi khususnya di pemasaran jaman sekarang adalah MLM (Multi level Marketing), dalam aamaliahpun dapat mengadopsi sistem ini. Cara penerapan amalan dengan sistim MLM ini dapat dilakukan oleh para orang tua terhadap anaknya dan atau para guru terhadap muridnya. Bagi guru pendidikan agama Islam tidaklah terlalu sulit untuk mengaplikasikannya, karena waktu pembelajaran mereka spesifikasi dibidang agama, namun beda dengan guru mata pelajaran lainnya, tentu akan berusaha mencari celah atau ruang yang tepat untuk menyelipkan materi agama yang dapat menjadi bekal ilmu agama bagi peserta didiknya. Amalan MLM ini adalah sistem amalan yang berskema dengan kaki yang terus bertambah, banyak orang yang mendapatkan ilmu dari para guru dan orang tuanya, kemudian diajarkan lagi kepada anak dan cucunya, dan terus diwariskan pada generasi selanjutnya. Bagi orang tua hanya terbatas pada generasinya, lain halnya bagi para guru, memiliki peluang untuk mendapatkan kaki yang lebih banyak dengan skema yang lebih luas. Pada bulan Ramdhan ini para guru dapat mengembangkan sistem Amalan MLM ini, dengan banyak cara serta modal yang minim untuk mendapatkan jaringan amalan yang terus berkembang dan tidak pernah putus. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah 1. Bapak/ibu guru dapat mengambil peran sebagai pendamping pada kegiatan IMTAQ Ramdhan di sekolahya masing-masing 2. Mempersiapkan amalan apa yang ingin disampaiakn kalau dalam sistem ekonomi produk apa yang akan dijual, dalam amalan ini dapat berupa doa dan zikir setelah sholat atau surah-surah pendek. 3. Menugaskan kepada peserta didik untuk menghafal dan menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari 4. Meminta kepada peserta didik untuk menyetor tugasnya tanpa dibatasi waktu, tentu dengan keadaan sekarang bisa dilakukan secara online dengan merekam suara atau vidio, tentu dengan penekanan unsur kejujuran. 5. Memberikan hadiah kecil berupa uang, atau hadiah lainnya pada 5 atau 10 orang peserta didik yang dapat melaporkan hafalannya didepan kelas, 6. Memberikan bonus lain kepada peserta didik lainnya yang belum menghafal tepat waktu, bisa berupa penambahan poin nilai atau lainnya. 7. Menyampaikan informasi kepada para orang tua atau wali untuk ikut serta membantu dan mengontrol putra-putrinya dalam mengumpulkan atau menyetor tugasnya. 




     Dalam ilmu ekonomi Bapak/ibu guru tentu merupakan agen atau distributor yang paling tepat dan bahkan sangat tepat sasaran, dapat kita bayangkan dalam satu majelis ada 50 orang anak, atau lebih dalam sehari dan isyaallah dapat dipastikan dan diiringi dengan doa bahwa anak-anak ini akan mengamalkan amalan-amalan sederhana itu dan kedepan dimasa mereka dewasa nanti akan mewariskan kepada anak dan keturunannya, dan bila diantara mereka ada yang jadi guru maka bisa jadi majelisnya lebih banyak lagi dan bahkan berlipat ganda sungguh luar biasa. Kalau dicermati skema itu masyaallah begitu fantastik, ayo mari bapak/ibu guru hebat dimana saja berada mari terus menggiatkan peningkatan ketaqwaan dan keimanan para siswa Indonesia sehingga kedepan tercipta generasi yang berahlak, bermoral dan bertanggung jawab pada negeri tercinta Indonesia.
### Semoga dapat menjadi inspirasi###

Rabu, 10 Februari 2021

BELAJAR IKHLAS MELEPASKAN



Monyet dan Pemburu
(, Sekelompok monyet-monyet dan sang pemburu)

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu
Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana. Karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu.

Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap gagal. Padahal, sebelumnya seekor monyet tua telah menasihati monyet muda itu: “Lepaskanlah tanganmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!” Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut.

Tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang-kacang itu. Tak lama kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya lagi: “Lepaskanlah kacang-kacang itu sekarang juga agar engkau bebas!” Walaupun monyet muda ketakutan. Tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh pemburu.

Demikianlah makna simbol dan kiasan kehidupan ini. Kadang Anda juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya Anda lepaskan dalam kehidupan ini. Mencengkram dan mengepal seperti : kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, kekecewaan dan lain-lain. Anda tetap tak bersedia melepaskannya. Namun semuanya terlambat. Karena kematian akhirnya “menangkap” Anda.

Lebih mudah jika Anda mau melepaskan setiap masa yang lampau yang buruk, lalu menatap hari esok dengan lebih cerah?